6 Alasan Terburuk Untuk Menikah

6 Alasan Terburuk Untuk Menikah


6 Alasan Terburuk Untuk Menikah - Sadar atau tidak, hal yang sering disepelekan namun berpengaruh pada kebahagiaan pernikahan Anda adalah jawaban yang Anda berikan ketika ditanya “Apa yang menjadi alasan Anda untuk memutuskan menikah? Anda menikah untuk apa?”
Jawaban Anda atas pertanyaan tersebut yang akan menentukan kehidupan pernikahan seperti apa yang akan Anda jalani nantinya. Berikut adalah jawaban klise kebanyakan orang atas alasan mereka ketika memutuskan untuk menikah.

  • Supaya hidup lebih bahagia.

Memulai hubungan yang untuk mencari kebahagiaan adalah alasan yang keliru. Anda harus sudah memiliki kebahagiaan independen yang berlimpah lebih dahulu. Sebab, tanpa memiliki kebahagiaan independen yang melimpah, Anda dan pasangan hanyalah sepasang individu yang haus akan kebahagiaan. Dan hubungan Anda akan diisi dengan tuntutan terhadap pasangan untuk memuaskan dahaga kebahagiaan tersebut.

  • Teman-teman seumuran saya sudah menikah.

Karena melihat mayoritas orang mengenakan pakaian tertentu, Anda langsung mengganti cara Anda berpakaian menjadi seperti mereka. Ini yang sering dilakukan oleh budak trend. Mereka kehilangan identitas dirinya sendiri. Mereka sudah tidak mampu mengikuti apa kata hati mereka, tertekan oleh budaya yang ada di lingkungan sekitarnya sehingga tidak mampu membuat keputusannya sendiri. Melihat teman-teman seumuran menikah, maka Anda tergoda untuk menikah. Kalau teman Anda bercerai, bisa jadi Anda juga nanti tergoda untuk bercerai.

  • Saya sudah masuk rentang umur untuk menikah.

Menginjak usia sekitar 25 tahun sudah merasa umurnya untuk menikah, tidak peduli beberapa aspek lain yang Anda dan pasangan miliki sudah mapan atau belum. Ini yang menyebabkan sebuah mobil bisa kehabisan bensin di tengah jalan. Karena tidak berbekal tangki bensin yang penuh dan memperhitungkan konsumsi bensin, yang penting mobil harus jalan karena memang sudah waktunya untuk jalan.

  • Membahagiakan orang tua.

Kita terdidik di budaya timur dimana menuruti dan membahagiakan orang tua adalah hal yang penting. Karena orang tua hanya merestui Anda dengan si A, maka Anda terpaksa memilih si A. Padahal hati kecil Anda tahu yang terbaik dan yang bisa membuat Anda bahagia adalah si B. Saya tidak mengajak Anda untuk menentang orang tua. Tapi Anda perlu mempertimbangkan bahwa, membahagiakan keluarga saja membuat Anda meraih kebahagiaan jangka pendek. Sementara pernikahan adalah proyek jangka panjang dimana Anda adalah aktor utamanya, keluarga hanya penonton.
Suatu saat orang tua akan meninggalkan kita. Jika mereka sudah tiada, maka pernikahan Anda otomatis jadi tidak berguna lagi untuk membahagiakan siapapun. Apalagi bila Anda menikah dengan orang yang salah. Tinggal menyisakan ketidakbahagiaan bagi Anda seumur hidup.

  • Agar pasangan tidak ditikung orang.

Anda mungkin bahagia karena bisa menikahi orang yang begitu ingin Anda miliki, hingga tak rela Anda lepaskan. Tapi pasangan Anda akan menderita karena menikahi Anda yang insekyur tidak terasa sebagai sebuah hubungan, melainkan sebuah penjara.

  • Punya status menikah itu membanggakan.

Ini adalah alasan paling konyol yang pernah ada. Benar-benar citra generasi muda masa kini. Mupeng dinikahi, mupeng dimiliki, dan mupeng untuk merasa berharga.
Pernikahan menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan bagi mereka, para pencari validasi dan tukang pamer. Sebab bagi mereka, status menikah layaknya gelar sarjana yang bisa digunakan untuk membuat keluarganya bangga dan orang lain kagum.
Padahal yang membuat seorang sarjana merasa bahagia bukanlah statusnya sebagai sarjana, tapi mengenai apakah dia bisa memiliki pekerjaan yang ia impikan. Akhirnya seperti sarjana yang membanggakan diri sudah wisuda, tapi menganggur tanpa pekerjaan.



Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Back To Top